Andi seorang anak kecil yang hidup di lingkungan terminal di daerah Jakarta, Andi tinggal dengan beberapa anak jalanan yang terlantar di dekat kolong jembatan. Setiap hari mereka mengamen, di kejar petugas ketertiban bahkan setiap hari mereka harus beradu fisik untuk mendapatkan sesuap makan. Diantara anak anak jalanan ini Andi adalah anak yang paling ingin melanjutkan sekolah, dulu ia adalah seorang anak pengusaha , waktu itu Andi berusia 8 tahun sejak kejadian perampokan dan andi di buang di kolong jembatan dia terpisah dari orang tuanya dan tak tau arah pulang. Anak sekecil dia hanya bisa menangis dan kebingungan dengan keadaanya. Sampai akhirnya anak-anak jalanan yang sudah lama menghuni kolong tersebut menampung Andi sebagai anggota dari keluarga mereka. Sudah dua tahun Andi menikmati hidup dan kerasnya di jalanan , seperti anjing gelandangan kecil yang terus berusaha hidup tanpa memikirkan seperti apa cantiknya dan lembutnya kehangatan selimut di dalam kandang anjing. Seperti biasa setiap pagi, Andi bangun dan siap mencari uang, ketika siang Andi berjalan melewati belakang bangunan sekolah dasar yang super mewah, dia mendengarkan lewat tembok kelas, itupun diam-diam karena kalau sampai ketahuan satpam sekolah pasti Andi bakal di usir dengan keji, menyimak pelajaran sambil memperlambat langkahnya demi mendengarkan pelajaran dengan baik, walau dia tidak begitu mengerti akan pelajaran tersebut. Langkahnya terhenti karena lamunan akan keinginanya untuk sekolah , dia masih ingat walau tidak begitu tajam tentang sekolahnya yang dulu, yang dia ingat dia mempunyai orang tua yang sibuk dan sekolah di suatu tempat yang setiap hari ada supir pribadi yang menemaninya.
Lamunanya pun tersapu karena mendengar suara satpam sekolah terdengar sedang meraung seolah kelaparan, Andi melihat dari jarak yang lumayan agak jauh, ternyata kedua temanya sedang besender di dekat gerbang sekolah karena letih dengan teriknya panas matahari sedang di usir dari sekolah tersebut. Andi yang berada di samping sekolahpun langsung lari dan bergegas menjauh dari sekolah tersebut sebelum satpam itu melihatnya. Sepuluh ribu rupiah ada di tanganya dia merasa cukup untuk makan hari ini. Andi dan yang lainya merasa beruntung karena tidak seperti anak anak jalanan yang lainya bekerja di bawah preman. Mereka anak-anak jalanan yang bebas dan hanya pulang setelah kembali dari mencari uang untuk mereka masing-masing. Dan bermain di kolong atau bermain di sekitar terminal. Tetapi merekapun harus waspada terhadap preman yang ingin menguasai mereka, saling melindungi itulah yang mereka lakukan satu sama lain, yang paling tua dari mereka bernama Badrun usianya 15 tahun, dia dianggap sebagai kaka bagi anak-anak jalanan yang bebas ini, tetapi mereka pun sadar ketika tertangkap oleh preman mau tidak mau mereka harus bekerja untuk sang preman. Sorepun datang, Andi duduk di sekitar taman kota tempat berhenti metromini. Dia duduk sambil melihat ke seberang jalan, seorang ibu yang sedang menggandeng tangan anaknya erat-erat yang pulang dari sekolah dan menunggu metromini di halte tersebut. Andi tersenyum melihat pemandangan tersebut, dalam hati kecilnya dia ingin sekali merasakan apa yang anak itu rasakan, seorang anak yang berusia sepuluh tahun bernama Andi ingin sekali di gandeng tanganya oleh sesosok Ibu. Senyumnya pun berubah menjadi datar setelah Ibu dan anak tersebut naik metromini, Andi pun pergi menuju terminal dengan mengamen di metromini menyanyi apa yang dia bisa dengan suaranya yang polos dia mencurahkan perasaan sedih dan senang dengan nyanyian di setiap metromini yang ia singgahi. Tak perduli berapa banyak recehan yang dia dapat, sedikit atau banyak Andi tak perduli, karena dia menganggap mengamen merupakan hiburan jalan-jalan gratis mengintari kota Jakarta. Malampun tiba, Andi beserta beberapa temanya bertemu di terminal tempat biasa mereka bertemu, terminal merupakan salah satu tempat bermain bagi mereka, terkadang Andi memukuli tubuh mikrolet sambil melantangkan suaranya “ ayo jalan-jalan cari uang” seolah ia sedang menggembala hewan ternak di padang rumput, terkadang juga menari-nari sambil memukuli mikrolet dengan tanganya seolah gendang sebagai alat musiknya. Supir dan kenek pun tidak marah karena Andi masih bertindak wajar dan tidak merusak, terlebih bagi mereka anak jalanan merupakan hal biasa disana dan merekapun sudah kenal bahkan hafal mana anak baru dan lama. Andi dan beberapa temanya pun merasa lelah setelah seharian mereka berpetualang dari satu tempat ke tempat lain, berkumpul dan pulang bersama-sama, dan siap menikmati hari esok dengan impian yang berbeda dan berharap suatu hari akan menjadi kenyataan. Hanya itu yang bisa ia lakukan di setiap hari-harinya, tak pernah mengeluh itu yang ia lakukan tangisan hanya akan membuatnya lemah, di usianya yang masih di bawah umur Andi selalu berusaha tegar dalam setiap apa yang ia impikan walau tak pernah tahu bagaimana cara untuk mewujudkanya.
No comments:
Post a Comment